Jumat, 01 Mei 2015



1     1.  Kartini dan Wanita Indonesia

Masyarakat Indonesia telah memiliki sebuah pandangan yang tradisional terhadap wanita, yakni wanita hanya akan menghabiskan hidupnya di rumah dan mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah tangga. Pandangan ini terasa sangat kental diakibatkan oleh struktur budaya paternalistik yang melekat pada bangsa Indonesia, sehingga  membuat wanita hanya seperti burung dalam sangkar yang hanya melihat keindahan dunia tetapi tidak bisa melebarkan sayapnya dengan mengudara bebas. Cara pandang seperti inilah yang membuat Kartini bangkit untuk meneriakkan emansipasi wanita, bahwa wanita Indonesia harus mengenyam pendidikan yang sama dengan kaum pria untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
            “Raden Ajeng Kartini” merupakan sepenggal nama, kenangan dan juga merupakan pelopor revolusi besar yang mengubah pandangan mengenai arti dan makna perempuan. Kartini juga adalah orang yang berpikir maju tentang  masa depan, beliau mempelopori gagasan bahwa pentingnya pendidikan bagi para perempuan. Menurutnya, perempuan harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki sebagaimana mestinya. Karena dengan adanya kesetaraan pendidikan ini, maka diskriminasi terhadap wanita yang tumbuh di dalam pandangan masyarakat pada umumnya akan hilang dan pudar ditelan waktu.

      2.  Pendidikan Wanita untuk Kemajuan Bangsa

Menurut Wasita dalam Ki Hajar Dewantara (1967:329) mengungkapkan “Hai, kaum perempuan Indonesia masuklah ke dunia pendidikan! disitulah kamu akan merasakan kenikmatan ini, karena kamu bekerja guna kemuliaan rakyat dan bangsa, selaras dengan kodratmu lahir dan batin” dari kutipan tesebut jelas bahwa wanita sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan baik kehidupan keluarga, pendidikan maupun sosial. Maka sewajarnya untuk wanita pada era sekarang ini harus menghargai perjuangan R.A Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan ikut berkontribusi dalam dunia pendidikan demi terwujudnya generasi penerus yang berkualitas bagi bangsa dan negara.
Emansipasi yang susah payah diperjuangkan Kartini seharusnya ditindak lanjuti dengan tindakan nyata bukan hanya sebatas konsep, misalnya mengikuti gerakan sosial dan membuka akses pendidikan bagi wanita, baik secara formal maupun informal, yaitu dengan membuka forum informatif dan diskusi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan wanita dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi, contohnya  melalui blog atau situs-situs web. Selain itu, gerakan wanita juga bisa dituangkan melalui sebuah karya seperti yang dilakukan oleh seorang musisi yang bernama Kartika Jahja yang menyuarakan aspirasi ketidakadilan mengenai isu feminisme dan kesetaraan gender. Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi pria dan wanita untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan pertahanan serta menikmati hasil pembangunan tersebut. 
Namun, sekarang banyak wanita yang salah mengartikan kesetaraan gender. Kesetaraan ini dianggap bahwa wanita bisa bebas melakukan semua hal yang layaknya dilakukan oleh pria, sedangkan secara secara biologis dan psikologi wanita dan laki-laki sejatinya tidak sama,  hal ini lah yang menjadikan pendidikan moral dan karakter sangat diperlukan bagi wanita untuk meluruskan kesalahpahaman makna dari kesetaraan gender, sehingga nantinya juga dapat mendidik generasi penerus yang memiliki kemampuan kogntif yang diimbangi dengan kecerdasan moral dan pendidikan karakter yang telah tertanamkan. Dengan begitu, generasi yang terbentuk akan memiliki semangat juang, kegigihan dan ketangguhan serta dapat peka terhadap lingkungan yang ada disekitarnya. Sebagai pondasi penanaman pendidikan tersebut, juga diperlukan bekal bagi para pendidik untuk bisa membentuk pola-pola pemikiran yang dapat menciptakan keteraturan dalam kehidupan individu, yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan termasuk kehidupan keluarga yang nantinya akan memberikan dampak positif bagi generasi yang akan terbentuk. Dalam pembentukan pola-pola pemikiran tersebut dibutuhkan proses dan gerakan-gerakan yang nyata oleh mahasiswa.

      3.  Peran Wanita (Mahasiswa) dalam Mencerdaskan Bangsa Melalui Pendidikan

Wanita pada dasarnya merupakan salah satu komponen yang penting dalam segala aspek kehidupan. Dimulai dari hal yang paling kecil yaitu sebagai seorang yang memulai titik awal dari kehidupan, lalu mendidik dengan penuh kasih sayang sehingga melahirkan generasi penerus yang terdidik dan memiliki kualitas yang nantinya akan memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.
            Adapun sebagai mahasiwa pada umumnya dan terkhusus sebagai seorang wanita, selayaknya kita harus membuka mata selebar-lebarnya mengenai peran dari mahasiswa itu sendiri, untuk bisa menjawab berbagai tantangan dan melanjutkan perjuangan dari R.A Kartini tesebut, mahasiswa harus menjalankan perannya sebagai :
a    a).  Agen of change
Sebagai agen perubahan, mahasiswa tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi subyek atau pelaku dari perubahan tersebut. Namun pada kenyataannya, dunia pendidikan yang kita alami sekarang ini sebagian besar hanya berpacu pada pendidikan kognitif saja dan kurang memperhatikan pendidikan moral dan pendidikan karakter. Padahal pendidikan moral dan karakter sangat berperan penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan bermutu. Langkah nyata yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa yaitu memberikan sosialisasi kepada para pendidik dan para orang tua serta mahasiswa pada umumnya untuk menanamkan pendidikan moral dan karakter, baik dalam ruang lingkup formal maupun informal.
b    b).      Control social
Pada era sekarang ini, banyak permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat yaitu mengenai permasalahan keluarga yang nantinya akan berdampak kepada pembentukan karakter anak. Contohnya, kasus perceraian yang saat ini seringkali terjadi dikalangan masyarakat. Permasalahan ini menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman tentang makna dan hakekat dari sebuah pernikahan. Untuk menjawab permasalahan tersebut kita sebagai mahasiswa sekaligus pelaku di dalamnya dapat menyediakan suatu wadah yang informatif seperti mengadakan kegiatan diskusi publik mengenai pendidikan pra nikah, yang tujuannya agar meminimalisir kasus-kasus perceraian dan kasus-kasus kekerasan didalam rumah tangga.

Jadi jelas bahwa peran kita sebagai mahasiswa sangat penting dalam berkontribusi demi kemajuan bangsa dan negara, karena mahasiswa adalah subyek dari pergerakan perubahan itu sendiri. Mahasiswa merupakan salah satu unsur yang berpotensi besar untuk merubah pola pikir terhadap makna dan arti wanita.
“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung, jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”  (Ir. Soekarno)    
Laki-laki dan perempuan harus saling menghargai, mendukung dan melengkapi satu sama lain, selayaknya seorang laki-laki yang baik ia akan menghargai dan mendukung setiap keinginan dan cita-cita wanita bukan membatasi dan tidak memperbolehkan wanita mengeksplorasikan kemampuan dan bercita-cita. Tetapi bagi seorang wanita, tetap harus mengingat kodrat dan kewajibannya.










DAFTAR PUSTAKA
Dewantara, Ki Hajar. 1967. Kebudayaan. Yogyakarta: Madjelis-Luhur Persatuan   Taman-Siswa
Vhy, Arham. 2013. 10 Kata Mutiara dan Bijak dari Ir. Soekarno. http:// Arhamvhy.blogspot.com/2013/08/10/kata/mutiara/dan/bijak/dari/ir.html. Diakses pada tanggal 23 April 2015
Makhsara, Ivan. 2015. 8 Wanita Penerus Perjuangan Kartini di Era Modern. http://news.viva.co.id/malesbanget/read/8-wanita-penerus-perjuangan-kartini-di-era-modern. Diakses pada tanggal 23 April 2015