1 1. Kartini
dan Wanita Indonesia
Masyarakat Indonesia telah memiliki sebuah pandangan yang tradisional terhadap
wanita, yakni wanita hanya akan menghabiskan hidupnya di rumah dan mengerjakan
segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah tangga. Pandangan ini terasa sangat
kental diakibatkan oleh struktur budaya paternalistik yang melekat pada bangsa Indonesia, sehingga membuat wanita hanya seperti burung dalam
sangkar yang hanya melihat keindahan dunia tetapi tidak bisa melebarkan
sayapnya dengan mengudara bebas. Cara pandang seperti inilah yang membuat
Kartini bangkit untuk meneriakkan emansipasi
wanita, bahwa wanita Indonesia harus mengenyam
pendidikan yang sama dengan kaum pria untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan
bangsa dan negara.
“Raden Ajeng Kartini” merupakan
sepenggal nama, kenangan dan juga merupakan pelopor revolusi besar yang
mengubah pandangan mengenai arti dan makna perempuan. Kartini juga adalah orang
yang berpikir maju tentang masa depan,
beliau mempelopori gagasan bahwa
pentingnya pendidikan bagi para perempuan. Menurutnya,
perempuan harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki
sebagaimana mestinya.
Karena dengan adanya
kesetaraan pendidikan ini, maka diskriminasi terhadap wanita yang tumbuh di
dalam pandangan masyarakat pada umumnya akan hilang dan pudar ditelan waktu.
2. Pendidikan
Wanita untuk Kemajuan Bangsa
Menurut Wasita dalam Ki Hajar Dewantara (1967:329) mengungkapkan “Hai, kaum perempuan
Indonesia masuklah ke dunia
pendidikan! disitulah
kamu akan merasakan kenikmatan ini, karena kamu bekerja guna kemuliaan rakyat
dan bangsa, selaras dengan kodratmu lahir dan batin” dari kutipan tesebut jelas
bahwa wanita sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan baik kehidupan
keluarga, pendidikan maupun sosial. Maka sewajarnya untuk wanita pada era sekarang ini harus
menghargai perjuangan R.A Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan ikut
berkontribusi dalam dunia pendidikan demi terwujudnya generasi penerus yang
berkualitas bagi bangsa dan negara.
Emansipasi yang susah payah diperjuangkan Kartini
seharusnya ditindak lanjuti
dengan tindakan nyata bukan hanya sebatas konsep, misalnya mengikuti gerakan
sosial dan membuka akses pendidikan bagi wanita, baik secara formal maupun informal, yaitu dengan membuka forum informatif
dan diskusi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan wanita
dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi, contohnya melalui blog atau
situs-situs web. Selain itu,
gerakan wanita juga bisa dituangkan melalui sebuah karya seperti yang dilakukan
oleh seorang musisi yang bernama Kartika
Jahja yang menyuarakan aspirasi ketidakadilan mengenai isu feminisme dan
kesetaraan gender. Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi pria dan
wanita untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu
berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, sosial budaya,
ekonomi, pendidikan dan pertahanan serta menikmati hasil pembangunan tersebut.
Namun, sekarang banyak wanita yang salah mengartikan kesetaraan gender.
Kesetaraan ini dianggap bahwa wanita bisa bebas melakukan semua hal yang layaknya
dilakukan oleh
pria, sedangkan secara secara biologis dan
psikologi wanita dan laki-laki sejatinya tidak sama, hal
ini lah yang menjadikan pendidikan moral dan karakter sangat diperlukan bagi
wanita untuk meluruskan kesalahpahaman makna dari kesetaraan gender, sehingga
nantinya juga dapat mendidik generasi penerus yang memiliki kemampuan
kogntif yang diimbangi dengan kecerdasan moral dan pendidikan karakter yang
telah tertanamkan. Dengan begitu, generasi
yang terbentuk akan
memiliki semangat juang, kegigihan dan ketangguhan serta dapat peka terhadap
lingkungan yang ada disekitarnya. Sebagai
pondasi penanaman pendidikan tersebut, juga diperlukan bekal bagi para pendidik untuk
bisa membentuk pola-pola pemikiran yang dapat menciptakan keteraturan dalam kehidupan individu,
yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan termasuk kehidupan keluarga yang
nantinya akan memberikan dampak
positif bagi generasi yang akan terbentuk. Dalam pembentukan pola-pola
pemikiran tersebut dibutuhkan proses dan gerakan-gerakan yang nyata oleh
mahasiswa.
3. Peran
Wanita (Mahasiswa) dalam Mencerdaskan Bangsa Melalui Pendidikan
Wanita pada dasarnya merupakan salah satu komponen
yang penting dalam segala aspek kehidupan. Dimulai dari hal yang paling kecil
yaitu sebagai seorang yang memulai titik awal dari kehidupan, lalu mendidik
dengan penuh kasih sayang sehingga melahirkan
generasi penerus yang terdidik dan memiliki kualitas yang nantinya akan
memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat, bangsa dan negaranya.
Adapun sebagai mahasiwa pada umumnya
dan terkhusus sebagai seorang wanita, selayaknya kita harus membuka mata
selebar-lebarnya mengenai peran dari mahasiswa itu sendiri, untuk bisa menjawab
berbagai tantangan dan melanjutkan perjuangan dari R.A Kartini tesebut,
mahasiswa harus menjalankan perannya sebagai :
a a). Agen
of change
Sebagai agen perubahan, mahasiswa tidak
hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi subyek atau pelaku dari
perubahan tersebut. Namun pada
kenyataannya, dunia pendidikan yang kita alami sekarang ini sebagian besar hanya berpacu
pada pendidikan kognitif saja dan kurang memperhatikan pendidikan moral dan pendidikan
karakter. Padahal pendidikan moral dan karakter sangat berperan penting dalam
menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan bermutu. Langkah nyata
yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa yaitu memberikan sosialisasi kepada
para pendidik dan para orang tua serta mahasiswa pada umumnya untuk menanamkan
pendidikan moral dan karakter, baik
dalam ruang lingkup formal maupun informal.
b b).
Control
social
Pada era sekarang ini, banyak permasalahan
yang terjadi di tengah masyarakat yaitu mengenai permasalahan keluarga yang
nantinya akan berdampak kepada pembentukan karakter anak. Contohnya, kasus perceraian yang saat ini seringkali terjadi
dikalangan masyarakat. Permasalahan ini menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman
tentang makna dan hakekat dari sebuah pernikahan. Untuk menjawab permasalahan tersebut
kita sebagai mahasiswa sekaligus pelaku di dalamnya dapat menyediakan suatu
wadah yang informatif seperti mengadakan kegiatan diskusi publik mengenai
pendidikan pra nikah, yang tujuannya
agar meminimalisir kasus-kasus perceraian dan kasus-kasus kekerasan didalam
rumah tangga.
Jadi
jelas bahwa peran kita sebagai mahasiswa sangat penting dalam berkontribusi
demi kemajuan bangsa dan negara, karena mahasiswa adalah subyek dari pergerakan
perubahan itu sendiri. Mahasiswa merupakan
salah satu unsur yang berpotensi besar untuk merubah pola pikir terhadap makna
dan arti wanita.
“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari
seekor burung, jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke
puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka
tak dapatlah terbang burung itu sama sekali” (Ir.
Soekarno)
Laki-laki dan perempuan harus saling menghargai,
mendukung dan melengkapi satu sama lain, selayaknya seorang laki-laki yang baik
ia akan menghargai dan mendukung setiap keinginan dan cita-cita wanita bukan
membatasi dan tidak memperbolehkan wanita mengeksplorasikan kemampuan dan
bercita-cita. Tetapi bagi seorang wanita, tetap harus mengingat kodrat dan
kewajibannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dewantara,
Ki Hajar. 1967. Kebudayaan. Yogyakarta:
Madjelis-Luhur Persatuan Taman-Siswa
Vhy,
Arham. 2013. 10 Kata Mutiara dan Bijak dari Ir. Soekarno. http:// Arhamvhy.blogspot.com/2013/08/10/kata/mutiara/dan/bijak/dari/ir.html. Diakses pada tanggal 23 April 2015
Makhsara, Ivan. 2015.
8 Wanita Penerus Perjuangan Kartini di Era Modern. http://news.viva.co.id/malesbanget/read/8-wanita-penerus-perjuangan-kartini-di-era-modern. Diakses pada tanggal
23 April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar